Jadi diri sendiri untuk tidak korupsi, apa
memang demikian? Bukannya sehari-hari kita sudah hidup dengan jadi diri
sendiri? Pada umumnya kita ini selalu melakukan pembenaran
menguntungkan diri sendiri. Padahal bila disadari dan direnungkan,
kadang kita bermimpi terlalu jauh hingga lupa diri dan malu pada diri
sendiri. Hal mudah untuk membuktikan banyak kepalsuan dalam kehidupan
sehari-hari, entah disengaja atau tidak. Kadang juga ada meskipun
sekedar ikut-ikutan, terlalu terobsesi tanpa melihat kemampuan diri
sendiri dan lain sebagainya.
Ini hal umum dan mudah ditemui ketika kita masuk ke dalam ruangan salon
, disana ada beberapa gambar model potongan rambut dari artis, aktor
atau entah siapa di gambar tersebut. Karyawan salon atau kita
kemungkinan akan bertanya," model apa kira-kira yang sedang atau lagi
trend?" Dipilihlah satu model potongan rambut, maka jadilah potongan
rambut kita seperti pada gambar. Ilustrasi ini tidak ada negatifnya,
namun seperti dikatakan diatas kita ini sudah menipu dengan menyamai
penampilan orang lain. Ini baru satu, belum lainnya.
Untuk orang dewasa dengan pemikiran matang, meskipun cenderung banyak
juga terjadi seperti ilustrasi diatas tapi masih dalam batas wajar.
Artinya hanya sekedar potongan rambut dan tidak mengakar pada karakter
untuk berubah dari diri sendiri menjadi orang lain. Bagaimana bagi
mereka yang belum matang cara berpikirnya? Bukankah kebiasaan sedikit
demi sedikit menjadi orang lain akan menjadi sebuah karakter yang
tertanam dalam di kehidupannya nanti kelak?
Saya melihat orang melakukan korupsi itu hanya ada satu tujuan, yaitu
memperkaya diri sendiri dengan berbagai cara meskipun itu terlarang.
Nah, untuk mendapatkan kekayaan tersebut tidak mungkin tanpa ada
dorongan atau alasan pasti. Bohong bila pelaku melakukan korupsi itu
seperti air yang mengalir atau bahkan tidak mengetahui atau tidak sadar
telah melakukan korupsi. Semua punya alasan, wong minum segelas air putih saja ada alasannya, bagaimana dengan melakukan korupsi?
Bisa jadi alasannya karena mereka para pelaku korupsi dulunya miskin dan ogah miskin
serta dendam pada kemiskinan. Kenapa mereka bisa ogah atau dendam pada
kemiskinan? Menurut saya mereka melihat orang-orang terdahulu yang
hidup kaya raya entah itu hasil jerih payah jujur atau korupsi. Ini
pasti sangat menarik hati. lantaran seumur-umurnya ketika masih sekolah
atau hidup di kampung miskin, kesana-kemari jalan kaki, maka mulailah
bermimpi untuk jadi seperti orang yang mereka lihat. Mereka sangat
ingin kaya, hingga bukan rahasia umum pada jaman dahulu tiap orang tua
menganjurkan anak-anaknya menjadi pegawai negeri. Entah apa alasan
ilmiah anjuran orang tua jaman dulu tersebut, apa karena dapat uang
pensiun seumur-umur atau nanti bisa jadi 'orang kaya'.
Contoh lain, ketika seorang teman yang bersahabat melihat sahabatnya
sukses serta kaya raya, tentunya si sahabat ini tertarik lalu ingin
mencontoh si sahabatnya yang telah sukses itu. Pada akhirnya mereka
berdua berkumpul di KPK atau di sel tahanan akibat melakukan korupsi.
Hal macam begini adalah umum kita temui dan kadang disadari tapi sering
terlupakan. Padahal itu semua tidak lain adalah masalah jadi diri
sendiri, dalam artian perilaku keseharian dalam kehidupan serta
bertindak sesuai dengan apa yang kita miliki. Percaya atau tidak, bahwa
kita ini cenderung melakukan korupsi seperti pada artikel saya
sebelumnya mengenai siapapun cenderung melakukan korupsi.
Melihat perkembangan sebenarnya korupsi bukan tindakan individu,
meskipun hasilnya akan tersebar rata di antara para pelaku sesuai porsi
masing-masing. Mereka itu orang-orang yang tidak bertindak sebagai
dirinya sendiri, lalu kemudian bergabung membangun kekuatan untuk
korupsi. Bahaya bila kita tahu akibat tidak jadi diri sendiri kemudian
dibiarkan begitu saja hingga nantinya saling bertemu antara mereka yang
berperilaku sama. Akhirnya korupsi tidak akan dapat terhindar, lalu
negara akan ludes dikuras oleh mereka-mereka ini.
Ini ada cara sederhana bagi kita, sobat, bapak atau ibu yang ingin
mengetahui seseorang itu lebih kepada jadi diri sendiri atau sebagai
orang lain. Mudah sekali dan jujur saja, saya pun pernah tidak jadi
diri sendiri.
- Coba sobat, bapak atau ibu tempelkan beberapa poster dan sebuah cermin.
- Lalu minta pada siapa saja yang akan diuji apakah mereka itu memiliki pendirian untuk jadi diri sendiri atau bukan.
- Mintalah mereka untuk memilih dan tanyakan, " kira-kira anda seperti siapa?"
- Lihat hasil jawaban mereka yang telah memilih.
Saya bisa pastikan saat ini juga, jarang dan tidak ada yang menjawab
seperti yang ada dalam cermin. Padahal itulah sesungguhnya bayangan
yang sama persis dengan diri kita, bukan seperti di poster. Untuk yang
menjawab tidak seperti siapa-siapa berarti mereka itu aneh. Boleh saja
berkeinginan, misalnya seperti Fathin, miss world, Habibie atau
kecantikan Angie, namun semua tentunya dalam batas wajar dan tidak
menjadi racun yang memaksa kita untuk jadi seperti mereka secara
instan.
Begitulah para pelaku korupsi, mereka ingin kaya, sukses, terpandang,
dan bisa beli segala macam lantaran kapok miskin ingin cepat menjadi
kaya seperti orang yang mereka contoh secara instan meskipun berisiko.
Ini akibat mereka terbiasa menanam benih terlalu berlebihan dari luar
angkasa tanpa melihat batas kemampuan sesungguhnya, akhirnya korupsi
sebagai jalan pintas untuk semua mimpinya. Demikian tulisan tentang Jadi Diri Sendiri Untuk Tidak Korupsi semoga bermanfaat. Terima kasih, peace!!




